Ya, mungkin sekarang memang saatnya,
Karena jika tidak sekarang pun, suatu saat dirimu pasti akan pergi,
Entah kita pergi bersamaan atau pergi sendiri – sendiri,
Saya sudah tahu saat seperti ini pasti akan tiba suatu hari nanti,
Saya sudah menduganya sejak beberapa hari yang lalu,
Tapi ternyata tetap sakit ya ?
Di sini, didalam dada saya, di kepala saya,
Saya merasa tidak lagi bisa bernafas, rasanya sulit sekali menerima itu.
Entah kenapa, saya memang tidak suka perpisahan..
Meski itu pesta, Pesta perpisahan,
Saya tidak suka perpisahan.
Saya tahu dengan menangis pun tidak akan pernah mengubah keadaan,
Tapi airmata ini tak pernah menuruti teriakan hati, dia terus saja mengalir,
Membuat mata ini memerah dan saya merasakan panas teramat sangat.
Saya tidak ingin kamu melihat saya menangis.
Inilah mimpi terindah yang selama ini kamu inginkan,
Mimpi terindah yang setiap saat kamu hembuskan dan ceritakan tanpa henti,
Tapi tetap saya merasa sakit,
Disini, di dalam dada saya,
Semoga berhasil, semoga mimpi indah itu bisa kamu genggam selamanya.
Saya bahagia, akhirnya mimpimu berhasil kamu hampiri,
Salam saya untuk hidup barumu,
Meski saya akan kehilangan seseorang yang selalu ada,
Seseorang pembunuh waktu hidup…
Sekarang saya akan belajar hidup tanpamu,
Doakan saya bisa,
Selamat jalan sahabat hati…
12 Januari, 2010
07 Januari, 2010
Alat cukur kampung !
Sempat terpikir untuk membelikan dia Alat cukur listrik, karena kumis, janggut dan rambut - rambut dimukanya dengan mudah tumbuh.
Ide ini ada sejak beberapa bulan lalu, ketika saya dan dia menghabiskan waktu di pusat elektronik di daerah sini. Waktu melewati rak kaca tempat alat itu dipajang, dia berhenti beberapa saat sampai saya menarik kaosnya untuk beranjak dari situ. Dia masih belum berani cerita kalau dia menginginkan alat itu. Dia baru berani bilang ketika sudah sampai rumah. Dan tetap, dia jadi bulan - bulanan saya lagi karena selalu begitu, diam. Dan tak berani mengungkapkan keinginan.
Akhirnya besoknya saya mampir ke pusat elektronik itu, mengahmpiri rak kaca tempat dimana dia berdiri mematung disana, kemarin. Saya memang tak mengajak dia serta hari itu. Saya belikan, nanti dia bisa ganti ketika sudah sampai rumah. Saya mencari - cari alat cukur yang dia mau. Ada berbagai alat cukur dipajang disana. Tapi saya tahu yang mana yang diinginkannya, pasti yang benda kecil berwarna silver seukuran kotak pembungkus rokok yang dia mau. Saya mulai memberi perhatian yang lebih untuk benda satu ini. Dan saya mulai minta bantuan penjaga untuk bisa lebih jelas lagi tentang benda berwarna silver itu.
Penjaga dengan rambut sebahu dan make up yang tebal itu dengan lancarnya menjelaskan kelebihan alat cukur itu. Saya pun mulai tertarik dan meminta ijin untuk menggenggamnya. Saya juga suka, bentuknya mungil, simpel, dan mudah perawatannya.
Tapi saya tertegun sejenak ketika membalik benda itu. Disana tertera harga dari benda kecil mungil yang akan saya bawa kerumah. Cukup mahal bagi saya. Saya yang sejak tadi begitu antusias mengenali benda ini. Seketika saya berpikir ulang untuk hal itu. Perlahan saya kembalikan benda silver itu pada penjaganya. Saya mengatakan dengan jujur bahwa uang saya belum cukup hari ini. Penjaga itu dengan baik menerima kembali dan mengatakan tidak apa - apa.
Saya tidak pernah bercerita kepadanya tentang kejadian hari itu. Hanya saja, saya berjanji untuk membelikan benda itu ketika dia ulang tahun nanti. Delapan bulan lagi. Dia bilang jangan dipaksakan, nanti kalau sudah ada dana lebih dia yang akan membeli sendiri. Meski saya lihat ada raut muka kecewa di wajahnya. Tapi dia bisa meyakinkan saya, dia masih nyaman dengan alat cukur yang dijual rencengan yang tanpa listrik. Saya memujinya untuk kesabaran yang dia miliki.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Tanggal tujuh belas besok adalah hari ulang tahunnya. Saya pun punya cukup dana dari pencairan Dana Jamsostek yang saya cairkan enam bulan lalu, dan saya simpan di tabungan rekening saya. Saya tidak mengatakan padanya bahwa saya memiliki uang yang cukup untuk membeli alat cukur listrik itu. Ketika pun dia menanyakan apakah saya punya dana cadangan yang bisa dia pinjam untuk pulang kampung akhir tahun kemarin.
Tapi sejak seminggu ini, saya harus belanja di warteg dekat rumah dan kantor. Karena alat penanak nasi yang ada dirumah sedang ngadat dan tak pernah mau kompromi untuk memasak nasi yang layak makan. Sore ini, sepulang kerja saya sibuk mencari - cari tahu pada teman kerja mengenai harga penanak nasi yang murah. Supaya saya bisa membeli yang baru lagi. Tapi saya juga ingat dengan janji saya padanya.
Akhirnya, saya memutuskan untuk membelikan dia alat cukur idamannya. Sekarang dia tidak perlu lagi susah - susah tiap pagi menggosok - gosok alat cukur rencengan di dagunya, dan dia tidak akan berdarah - darah lagi karena sayatan pisau tajam dari alat cukur itu. Alat cukur itu sudah dalam tas kerja saya sekarang.
Malam itu saya menunggu dia pulang. Saya menunggu saja di depan rumah. Sambil dengan tidak sabar memlihat matanya berbinar - binar melihat saya. Sudah dua jam saya menunggu. Meski saya tidak keberatan menikmati bintang - bintang malam itu menemani saya. Saya tetap berharap dia segera kembali. Pulang.
Dia tidak menjawab pesan singkat saya. Dia juga tidak mengangkat panggilan telpon saya. Dan saya masih setia menunggu dia datang. Meski saya lupa...
Hari ini sudah enam bulan dia berada di kampungnya, dan mungkin sedang tertidur lelap disamping istrinya...
**be brave honey..**based on her story**crazy in love which make u crazier tha ever**feel your brain with yours**
Ide ini ada sejak beberapa bulan lalu, ketika saya dan dia menghabiskan waktu di pusat elektronik di daerah sini. Waktu melewati rak kaca tempat alat itu dipajang, dia berhenti beberapa saat sampai saya menarik kaosnya untuk beranjak dari situ. Dia masih belum berani cerita kalau dia menginginkan alat itu. Dia baru berani bilang ketika sudah sampai rumah. Dan tetap, dia jadi bulan - bulanan saya lagi karena selalu begitu, diam. Dan tak berani mengungkapkan keinginan.
Akhirnya besoknya saya mampir ke pusat elektronik itu, mengahmpiri rak kaca tempat dimana dia berdiri mematung disana, kemarin. Saya memang tak mengajak dia serta hari itu. Saya belikan, nanti dia bisa ganti ketika sudah sampai rumah. Saya mencari - cari alat cukur yang dia mau. Ada berbagai alat cukur dipajang disana. Tapi saya tahu yang mana yang diinginkannya, pasti yang benda kecil berwarna silver seukuran kotak pembungkus rokok yang dia mau. Saya mulai memberi perhatian yang lebih untuk benda satu ini. Dan saya mulai minta bantuan penjaga untuk bisa lebih jelas lagi tentang benda berwarna silver itu.
Penjaga dengan rambut sebahu dan make up yang tebal itu dengan lancarnya menjelaskan kelebihan alat cukur itu. Saya pun mulai tertarik dan meminta ijin untuk menggenggamnya. Saya juga suka, bentuknya mungil, simpel, dan mudah perawatannya.
Tapi saya tertegun sejenak ketika membalik benda itu. Disana tertera harga dari benda kecil mungil yang akan saya bawa kerumah. Cukup mahal bagi saya. Saya yang sejak tadi begitu antusias mengenali benda ini. Seketika saya berpikir ulang untuk hal itu. Perlahan saya kembalikan benda silver itu pada penjaganya. Saya mengatakan dengan jujur bahwa uang saya belum cukup hari ini. Penjaga itu dengan baik menerima kembali dan mengatakan tidak apa - apa.
Saya tidak pernah bercerita kepadanya tentang kejadian hari itu. Hanya saja, saya berjanji untuk membelikan benda itu ketika dia ulang tahun nanti. Delapan bulan lagi. Dia bilang jangan dipaksakan, nanti kalau sudah ada dana lebih dia yang akan membeli sendiri. Meski saya lihat ada raut muka kecewa di wajahnya. Tapi dia bisa meyakinkan saya, dia masih nyaman dengan alat cukur yang dijual rencengan yang tanpa listrik. Saya memujinya untuk kesabaran yang dia miliki.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Tanggal tujuh belas besok adalah hari ulang tahunnya. Saya pun punya cukup dana dari pencairan Dana Jamsostek yang saya cairkan enam bulan lalu, dan saya simpan di tabungan rekening saya. Saya tidak mengatakan padanya bahwa saya memiliki uang yang cukup untuk membeli alat cukur listrik itu. Ketika pun dia menanyakan apakah saya punya dana cadangan yang bisa dia pinjam untuk pulang kampung akhir tahun kemarin.
Tapi sejak seminggu ini, saya harus belanja di warteg dekat rumah dan kantor. Karena alat penanak nasi yang ada dirumah sedang ngadat dan tak pernah mau kompromi untuk memasak nasi yang layak makan. Sore ini, sepulang kerja saya sibuk mencari - cari tahu pada teman kerja mengenai harga penanak nasi yang murah. Supaya saya bisa membeli yang baru lagi. Tapi saya juga ingat dengan janji saya padanya.
Akhirnya, saya memutuskan untuk membelikan dia alat cukur idamannya. Sekarang dia tidak perlu lagi susah - susah tiap pagi menggosok - gosok alat cukur rencengan di dagunya, dan dia tidak akan berdarah - darah lagi karena sayatan pisau tajam dari alat cukur itu. Alat cukur itu sudah dalam tas kerja saya sekarang.
Malam itu saya menunggu dia pulang. Saya menunggu saja di depan rumah. Sambil dengan tidak sabar memlihat matanya berbinar - binar melihat saya. Sudah dua jam saya menunggu. Meski saya tidak keberatan menikmati bintang - bintang malam itu menemani saya. Saya tetap berharap dia segera kembali. Pulang.
Dia tidak menjawab pesan singkat saya. Dia juga tidak mengangkat panggilan telpon saya. Dan saya masih setia menunggu dia datang. Meski saya lupa...
Hari ini sudah enam bulan dia berada di kampungnya, dan mungkin sedang tertidur lelap disamping istrinya...
**be brave honey..**based on her story**crazy in love which make u crazier tha ever**feel your brain with yours**
18 Desember, 2009
BARMANTIO – Series of My Lost Close Friends
Saya memanggilnya Bram, seperti keinginan dia untuk perubahan namanya, bukan Barmantio, tapi Bramantio. Saya mengenalnya karena dia tinggal di Mess tempat dia bekerja, karena jaraknya tidak begitu jauh dengan rumah saya.
Dia tinggal di kamar paling ujung di Mess. Saya sering menghabiskan waktu dengan berbincang – bincang dan bermain kartu dengan dia di kamar itu.
Sepanjang saya mengenalnya, saya lupa apakah saya pernah melihat dia sedih atau menangis. Dia selalu tampak bahagia dan menyenangkan setiap saat, meski ketika saat dia harus pergi tengah malam dan pulang pagi. Dia terobsesi dengan Body Builder. Padahal tinggi badan dia dan saya tidak jauh berbeda, lebih tinggi dia sih, mungkin satu atau dua sentimeter. Tapi usahanya sangat gigih dalam membentuk tubuhnya. Tiap hari dia sempatkan mengangkat dua kaleng cat yang diisi adukan semen dan pasir. Dan dia berhasil membentuk tubuhnya a-la Ade Rai. Dan saya selalu tertawa geli ketika dia dengan bangganya memamerkan otot – otot di lengannya.
Satu hal yang saya kangeni dari Barmantio adalah, dia salah satu tukang cukur andalan saya. Ketika rambut dikepala ini mulai tumbuh tidak beraturan. Maka saya akan mencari dia untuk merapikannya. Biasanya saya hanya bawa diri ke tempat dia. Sisir dan gunting cukur akan mudah didapat di Mess. Potongan yang dia lakukan sama rambut saya biasanya memuaskan. Walau kadang, dia juga bereksperimen dengan info baru yang dia tahu, maka di kepala saya akan ada hasil karya dia yang LUAR BIASA. Dan saya rela rambut di kepala ini jadi percobaan yang dia mau.
Sebenarnya, saya malah bisa menemui dia pada saat hari kerjanya. Ketika hari libur justru dia akan menghilang dan lari ke rumah kakaknya yang berbeda kecamatan dengan saya.
Dia akan duduk diatas ranjang dua tingkat besi, persis seperti ranjang panti asuhan, ketika dia akan bercerita. Dia selalu antusias ketika bercerita tentang kampung halamannya di Lampung yang gelap gulita. Tentang cerita masa kecilnya a-la si Bolang di Stasiun Televisi Nasional. Dan saya adalah pemirsa setianya dia. Karena dia akan selalu punya cerita baru tentang itu. Juga cerita – cerita ketika dia jadi Salesman perusahaan sejenis apa gitu saya lupa. Pokoknya dia menjual peralatan memasak, kosmetik, sampai jam tangan digital murahan. Dan dia harus berpura – pura menemui orang yang beruntung mendapatkan barang – barang jualannya, seperti acara pemenang undian di jalanan. Padahal orang – orang itu harus membeli barangnya dia. Wah, banyak lagi cerita dari dia.
Saya tidak tahu apakah saya duluan yang pergi ke Jakarta, atau dia yang pergi dari Mess itu karena kontrak kerjanya yang habis.
Beberapa kali saya mendengar berita kalau dia sekarang jadi TNI, atau menjadi ABK di Pelayaran. Katanya lagi, dia sempat datang ke Mess dan bertemu dengan teman – teman lainnya. Tapi waktu itu saya sudah dijerat waktu kerja di Jakarta. Saya belum sempat menemuinya, saat itu.
Saya sendiri belum pernah bertemu dia lagi sejak itu. Dan saya tidak punya ide untuk mengetahui dimana dia berada sekarang.
Saya hanya berharap dia baik – baik saja, memiliki istri yang cantik dan anak – anak yang lucu – lucu dan imut – imut.
Untukmu Bram, sayang saya belum pernah berkesempatan mengambil gambar untuk mengabadikan waktu dirimu masih ada. Dimanapun dirimu berada, saya harap kamu bahagia dan hidupmu penuh berkah, seperti mimpi – mimpimu waktu itu. Mimpi – mimpi saya sudah tidak sama lagi dengan dulu Bram, sejalan dengan waktu dan usia yang makin tua ini. Beberapa mimpi dan harapan sudah saya simpan baik – baik di peti emas saya. Dan sebagian lagi sudah saya lakukan dan nikmati.
Oia, mimpimu untuk bertemu Ade Rai sudah kesampaian belum Bram ? hehehehehe…
Dia tinggal di kamar paling ujung di Mess. Saya sering menghabiskan waktu dengan berbincang – bincang dan bermain kartu dengan dia di kamar itu.
Sepanjang saya mengenalnya, saya lupa apakah saya pernah melihat dia sedih atau menangis. Dia selalu tampak bahagia dan menyenangkan setiap saat, meski ketika saat dia harus pergi tengah malam dan pulang pagi. Dia terobsesi dengan Body Builder. Padahal tinggi badan dia dan saya tidak jauh berbeda, lebih tinggi dia sih, mungkin satu atau dua sentimeter. Tapi usahanya sangat gigih dalam membentuk tubuhnya. Tiap hari dia sempatkan mengangkat dua kaleng cat yang diisi adukan semen dan pasir. Dan dia berhasil membentuk tubuhnya a-la Ade Rai. Dan saya selalu tertawa geli ketika dia dengan bangganya memamerkan otot – otot di lengannya.
Satu hal yang saya kangeni dari Barmantio adalah, dia salah satu tukang cukur andalan saya. Ketika rambut dikepala ini mulai tumbuh tidak beraturan. Maka saya akan mencari dia untuk merapikannya. Biasanya saya hanya bawa diri ke tempat dia. Sisir dan gunting cukur akan mudah didapat di Mess. Potongan yang dia lakukan sama rambut saya biasanya memuaskan. Walau kadang, dia juga bereksperimen dengan info baru yang dia tahu, maka di kepala saya akan ada hasil karya dia yang LUAR BIASA. Dan saya rela rambut di kepala ini jadi percobaan yang dia mau.
Sebenarnya, saya malah bisa menemui dia pada saat hari kerjanya. Ketika hari libur justru dia akan menghilang dan lari ke rumah kakaknya yang berbeda kecamatan dengan saya.
Dia akan duduk diatas ranjang dua tingkat besi, persis seperti ranjang panti asuhan, ketika dia akan bercerita. Dia selalu antusias ketika bercerita tentang kampung halamannya di Lampung yang gelap gulita. Tentang cerita masa kecilnya a-la si Bolang di Stasiun Televisi Nasional. Dan saya adalah pemirsa setianya dia. Karena dia akan selalu punya cerita baru tentang itu. Juga cerita – cerita ketika dia jadi Salesman perusahaan sejenis apa gitu saya lupa. Pokoknya dia menjual peralatan memasak, kosmetik, sampai jam tangan digital murahan. Dan dia harus berpura – pura menemui orang yang beruntung mendapatkan barang – barang jualannya, seperti acara pemenang undian di jalanan. Padahal orang – orang itu harus membeli barangnya dia. Wah, banyak lagi cerita dari dia.
Saya tidak tahu apakah saya duluan yang pergi ke Jakarta, atau dia yang pergi dari Mess itu karena kontrak kerjanya yang habis.
Beberapa kali saya mendengar berita kalau dia sekarang jadi TNI, atau menjadi ABK di Pelayaran. Katanya lagi, dia sempat datang ke Mess dan bertemu dengan teman – teman lainnya. Tapi waktu itu saya sudah dijerat waktu kerja di Jakarta. Saya belum sempat menemuinya, saat itu.
Saya sendiri belum pernah bertemu dia lagi sejak itu. Dan saya tidak punya ide untuk mengetahui dimana dia berada sekarang.
Saya hanya berharap dia baik – baik saja, memiliki istri yang cantik dan anak – anak yang lucu – lucu dan imut – imut.
Untukmu Bram, sayang saya belum pernah berkesempatan mengambil gambar untuk mengabadikan waktu dirimu masih ada. Dimanapun dirimu berada, saya harap kamu bahagia dan hidupmu penuh berkah, seperti mimpi – mimpimu waktu itu. Mimpi – mimpi saya sudah tidak sama lagi dengan dulu Bram, sejalan dengan waktu dan usia yang makin tua ini. Beberapa mimpi dan harapan sudah saya simpan baik – baik di peti emas saya. Dan sebagian lagi sudah saya lakukan dan nikmati.
Oia, mimpimu untuk bertemu Ade Rai sudah kesampaian belum Bram ? hehehehehe…
12 Desember, 2009
Ternyata saya GOBLOK !!!
.jpg)
Tadinya saya pikir, saya akan terbebas dari perasaan ini. Dan akan memulai hidup baru lagi. Dan terbebas dari hembusan mimpi tentang dirimu.
Tadinya saya pikir, meninggalkanmu adalah jalan terbaik.
Tadinya saya bahagia, akhirnya tak ada lagi KITA, jadi saya bisa memulai memikirkan bagaimana saya mencintai saya, bukan KITA.
Tadinya saya pikir saya MENANG, dengan tidak menghiraukan semua pesan pendekmu, semua umpatanmu di Dinding Facebook saya, semua panggilan telponmu, semua email yang kamu kirim untuk saya.
Tadinya saya pikir hanya saya SEORANG dihatimu, ketika tahu dirimu melepaskan dia, sumber semua kekacauan ini, dan lebih memilih saya.
Tadinya saya pikir saya bisa BANGGA, membiarkanmu melihat saya dengan orang lain, membiarkanmu menunggu saya tanpa saya sapa,
Membuatmu CEMBURU adalah kesenangan yang luar biasa saat itu.
Melihatmu menderita karena perbuatan jahat saya, tahukah kamu, saya tertawa sangat dalam hati mengetahui kamu mengalah malam itu.
Memberikan satu kata MAAF untuk dirimu terlalu berharga bagi saya, hingga ketika kamu mengiba pun, saya tidak pernah mengampunimu, biar kamu tahu rasanya berada di pihak yang penuh harap.
Saya sangat setuju ketika kamu mengirimi saya lagu “SANG MANTAN”-nya Nidji. Saya tersenyum penuh kemenangan saat itu.
Setelah itu, dirimu bagai MATI. Tak ada lagi yang mengganggu saya. Hidup ini indah tanpa hadirnya dirimu di dunia ini.
Ternyata saya SALAH…..
Ternyata saya RAPUH tanpa kamu….
Ternyata saya meRINDUkanmu malam ini.. sangat…
Ternyata tak seorang pun MENGERTI saya selain kamu…
Ternyata tak ada yang MERAYU ketika saya diam, biasanya dirimu yang mau.
Ternyata kamu yang BISA….
Ternyata kamu yang mau mengabulkan dan MENGHIBUR saya ketika saya sakit…
Ternyata saya tidak RELA ketika tahu dirimu dengan orang lain…
Ternyata saya tidak bisa seperti dirimu, MENGHILANGKAN saya dari hidup.
Ternyata saya GOBLOK..
Ternyata kamu tidak pernah MENCINTAI SAYA
SAYA YANG TERUS BERHARAP KAMU ADA…
SAYA YANG MENCINTAI KAMU SANGAT..
Mianhae….
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Pasto - Jujur Aku Tak Sanggup
28 Oktober, 2009
Kamu adalah perempuan paling cantik di negeriku Indonesia..
Kamu yang berada dihadapan saya sekarang.. Kamu yang saya cintai, 8 tahun lalu… Saya tidak pernah menyangka kamu bisa melalui hidup sesulit itu.. Saya salah telah menilaimu lemah dan manja…
Dari tatapanmu saya tahu kamu masih berharap saya kembali seperti dulu..
Ketika dirimu memutuskan untuk hidup selamanya dengan pasangan hidupmu sekarang, kamu berusaha sembunyi dari kejaran mata dan telinga. Saya memaklumi hal itu.
Maaf, jika saya bukan yang terbaik untuk dirimu.
Melihatmu tertawa sekarang, rasanya seperti berbanding terbalik dengan masa dimana kamu meraung dipunggungku, mencakar dan merobek diriku. Tangismu meledak tanpa saya bisa mencegahnya. Kamu memutuskan berhenti hidup sejak saat itu. Tahukah saat itu, kamu malah memperburuk suasana.
Saya menjemput senyumanmu karena rengekan sahabatmu yang tidak tega melihat dirimu menyiksa waktu. Tapi yakinlah, saya tidak merasa dipaksa saat itu.
Hari pernikahanmu…
Saya bahkan tidak tahu kamu secepat itu mengalah pada keegoisan hati. Suamimu melarang saya bertemu kamu. Bahkan untuk mengucapkan selamat.
Kamu beruntung memiliki suami yang sangat mencintai dan menghargai perasaanmu. Dia memberikanmu sebuah hidup, yang tidak pernah saya berikan padamu. Dia bahkan rela untuk menjadi SAYA dalam hidupmu.
Saya tidak pernah menyesal melepasmu pergi hari itu, karena saya yakin, ada orang lain disana yang bisa mencintai dan memberikanmu kebahagiaan, lebih dari yang saya bisa. Dan itu terbukti hingga sekarang.
Kamu masih tetap memanggil saya ABANG… meski saya tidak lagi menggenggam tanganmu..
:: Untuk Titi Kamal saya… meski saya bukan Christian Sugiono… terima kasih atas masa lalu kita yang indah…
Dari tatapanmu saya tahu kamu masih berharap saya kembali seperti dulu..
Ketika dirimu memutuskan untuk hidup selamanya dengan pasangan hidupmu sekarang, kamu berusaha sembunyi dari kejaran mata dan telinga. Saya memaklumi hal itu.
Maaf, jika saya bukan yang terbaik untuk dirimu.
Melihatmu tertawa sekarang, rasanya seperti berbanding terbalik dengan masa dimana kamu meraung dipunggungku, mencakar dan merobek diriku. Tangismu meledak tanpa saya bisa mencegahnya. Kamu memutuskan berhenti hidup sejak saat itu. Tahukah saat itu, kamu malah memperburuk suasana.
Saya menjemput senyumanmu karena rengekan sahabatmu yang tidak tega melihat dirimu menyiksa waktu. Tapi yakinlah, saya tidak merasa dipaksa saat itu.
Hari pernikahanmu…
Saya bahkan tidak tahu kamu secepat itu mengalah pada keegoisan hati. Suamimu melarang saya bertemu kamu. Bahkan untuk mengucapkan selamat.
Kamu beruntung memiliki suami yang sangat mencintai dan menghargai perasaanmu. Dia memberikanmu sebuah hidup, yang tidak pernah saya berikan padamu. Dia bahkan rela untuk menjadi SAYA dalam hidupmu.
Saya tidak pernah menyesal melepasmu pergi hari itu, karena saya yakin, ada orang lain disana yang bisa mencintai dan memberikanmu kebahagiaan, lebih dari yang saya bisa. Dan itu terbukti hingga sekarang.
Kamu masih tetap memanggil saya ABANG… meski saya tidak lagi menggenggam tanganmu..
:: Untuk Titi Kamal saya… meski saya bukan Christian Sugiono… terima kasih atas masa lalu kita yang indah…
25 Oktober, 2009
Never Ending Story

Ketika melihat ada message baru di Inbox, saya sudah bisa mengetahui dari siapa message tersebut berasal. Dari dirimu, ya dirimu. Saya tidak bisa menyalahkan bahwa akhirnya kamu menuliskan kata-kata itu. Saya juga tidak akan menghapus semua komentar yang kamu tulis di situs jejaring, tentang saya. Tentang betapa kecewanya dirimu terhadap saya, betapa kamu menyalahkan saya atas situasi yang ada sekarang.
Percayalah, seandainya kamu tahu, seandainya kamu bisa melihat apa yang ada di hati saya, tentang kamu, mungkin kamu akan tidak percaya, betapa saya tidak pernah ingin membuatmu merasa kecewa, betapa saya ingin terus mengenggam kedua tanganmu, betapa saya takut kehilanganmu.
Saya mungkin akan melakukan hal yang sama, hal yang sama kamu lakukan terhadap saya, dengan menyalahkan saya atas situasi yang sebenarnya pun merugikan tidak hanya kamu, tapi juga saya, dan orang – orang terdekat dengan kita.
Never ending story… kata salah seorang sahabat kita, ya.. kemarin dia menanyakan kabar kamu sekarang, kabar tentang kita juga, dia membutuhkan kita sebenarnya, tapi untuk sekarang ini, kita malah sibuk menyalahkan masing-masing.
Saya harap, tentang kita, tidak akan pernah ada “Never ending story”… saya hanya ingin kita mengubah jalan ceritanya saja, dan saya yakin kita bisa melalui semua ini dengan baik, bukankah ini semua demi kebaikan bersama? Meski saya harus mengakui keegoisan saya, Ya, itu untuk kebaikan saya. Saya harap mengertilah.
Tak ada yang bisa menggantikan dirimu, hanya berdamailah dengan hidup, setelah kita berdua bisa berdamai dengan hidup, kita bisa memulai bab baru dalam hidup ini.
gambar diambil dari sunflowerfavors.com
16 Oktober, 2009
Sebegitu memalukannya kah saya di matamu.. ??
Sebenarnya, saya tidak pernah mengenalmu...
Saya tidak pernah tahu siapa saja teman kerjamu,
Saya tidak pernah tahu siapa saja teman kuliahmu,
Saya tidak pernah tahu siapa saja keluargamu
Saya tidak pernah tahu siapa saja saudaramu,
Saya tidak pernah tahu siapa saja teman baikmu,
Saya tidak pernah tahu siapa saja pacarmu,
Saya tidak pernah tahu siapa saja sahabatmu,
Saya tidak pernah tahu siapa saja kekasih hatimu,
Saya tidak pernah tahu siapa saja teman sekolahmu,
Saya tidak pernah tahu apapun tentang dirimu,
Pernah saya bertanya tentang semua itu, jawabanmu EMANG PENTING !!
Pernah juga kamu menyebutkan beberapa nama yang saya tidak tahu orang itu nyata atau tidak,
Setelah hampir sepuluh tahun, saya baru sadar, saya tidak pernah mengenal dirimu,
Ya, memang tidak penting, sampai saya sadar...
Ternyata kamu memang tidak ingin siapapun tahu tentang saya,
Ternyata kamu memang tidak ingin orang-orang di sekitarmu tahu, saya ada di hidupmu,
Kamu tahu, bahkan pernah bertemu, siapa saja teman kerjaku,
Kamu tahu, bahkan pernah bertemu, siapa saja teman kuliahku,
Kamu tahu, bahkan pernah bertemu, siapa saja keluargaku,
Kamu tahu, bahkan pernah bertemu, siapa saja saudaraku,
Kamu tahu, bahkan pernah bertemu, siapa saja teman baikku,
Kamu tahu, bahkan pernah bertemu, siapa saja pacarku,
Kamu tahu, bahkan pernah bertemu, siapa saja sahabatku,
Kamu tahu, bahkan pernah bertemu, siapa saja kekasih hatiku,
Kamu tahu, bahkan pernah bertemu, siapa saja teman sekolahku,
Kamu tahu, bahkan pernah bertemu, apapun yang ada dihidupku,
Dan saya bangga memberitahu dunia bahwa kamu ada di hidupku !
Sebegitu memalukannya kah saya di matamu.. ??
Langganan:
Postingan (Atom)