03 Maret, 2010

Maaf saya bukan penghibur hati yang baik ..


Kamu masih terdiam mematung, entah apa yang ada di mata dan pikiranmu. Suasana ruangan ini sangat ramai malam tadi, musik yang bergema di setiap sudut, suara acara dari berbagai stasiun televisi, orang - orang yang bicara dengan suara lantang setengah berteriak, tapi kamu sepertinya sedang sendirian di tengah hutan dan menikmati dunia pikiran yang terbolak - balik melalui jendela matamu. Ini bukan yang pertama kali kamu terdiam begini. Sudah sembilan kali sejak satu setengah jam tadi. Teriakan kemenangan orang sepertinya malah membuat telingamu tuli. Bahkan kau tidak menyadari dari tadi saya juga diam mematung memandangimu.

"Giliranmu !" Teriakku, sambil menepuk pundakmu dan menunjuk ke arah tengah ruangan.

Kamu bahkan tidak terkaget - kaget lagi ketika saya menepuk lebih keras dari sebelumnya, tanpa mengeluarkan kata - kata dirimu langsung siap siaga dengan stick digenggamanmu. Dan memandangi bola - bola itu, seolah kamu mencintainya.

Oke, mungkin saya tidak mengenalmu dengan baik, kita bahkan baru tiga kali bertemu termasuk dengan pertemuan malam tadi. Terlalu singkat saya menilaimu. Dan saya tidak memiliki hak untuk mengenalmu lebih jauh, ada benteng tinggi disekitarmu yang terlalu tinggi untuk saya panjat dan masuki.

Kamu tertawa dengan keras dan berjingkrak - jingkrak ketika kamu sukses memasukkan bola. Tahukah kamu... saya masih tetap bisa melihat kegetiran dan kesedihan di sudut mata polosmu. Tertawamu terlalu dipaksakan untuk orang yang benar - benar bahagia. Senyummu terlalu mahal untuk disunggingkan, terlalu tidak alami. Seharusnya hanya kamu saja yang merasakan hal itu, tapi malah hati saya yang terasa tercabik - cabik dengan diam mu. Mata saya yang membentuk danau dalam dan sepi melihatmu. Saya bukan kamu. Tapi mengapa saya harus menderita melihatmu.

Kamu sempat antusias ketika saya mencoba menggengam dan meramal garis tangan sebelah kirimu, Kamu bertanya berkali - kali tentang keberuntungan yang akan kamu miliki. Dan selalu pertanyaan sama yang kamu tanyakan. "Benarkah ? Ayo coba baca lagi garis tangan saya !". Seolah kamu tidak percaya bahwa kamu pun berhak untuk beruntung dan bahagia.

Kamu lalu diam di sisi ruangan, menyalakan rokok dan terdiam sambil memeluk stick di depan. Ajakan saya untuk kembali lagi bermain kamu jawab dengan gelengan kepala. Apakah kamu mulai lelah ? Lelah bermain dengan hidup. Lelah berjalan diatas semua kepalsuan yang selama ini kamu tampilkan. Lelah berpura - pura bahwa kamu adalah orang paling bahagia diatas muka bumi ini. Saya bukan orang - orang itu, saya tahu benar kamu terluka, sendirian, kesepian.

Saya juga tak mengerti kenapa hati saya harus merasa sakit. Melihatmu begitu, hati saya sangat sakit. Begitu sakit. Sakit karena saya bukan seorang penghibur hati yang baik. Sakit karena saya bahkan tidak bisa memelukmu dan membiarkanmu nyaman disana. Sakit karena untuk menyentuhmu saja, saya harus menunggu satu tahun. Sakit karena saya tidak bisa membiarkanmu tertawa lepas, tersenyum manja, menari indah, teriak lantang, menangis haru...

Kamu telah merusak suasana hati saya tadi malam hingga pagi ini, tanpa saya bisa membuatmu merasa lebih baik.

Saya mungkin bukan orang yang berhak membuatmu bahagia. Tapi dengan siapapun kamu melewati hidup ini. Kamu tetap berhak untuk hidup bahagia.

Maaf saya bukan penghibur hati yang baik.

PS : Now, I knew why you humming "Hurt" Xtina

gambar dari www2.worthingtonlibraries.org. terima kasih

2 komentar:

meila mengatakan...

^_^d

achmad djaenudin mengatakan...

ruarr biasa kata2nya begitu puitis terutama yg di bagian2 akhir btw fotonya ...aduh jadi pengen, kapan bisa kayak gitu